Landasan Operasional “ASURANSI SYARIAH”


Anyway, mungkin beberapa orang atau modern ini sering terdengar perbankan berbasis syariah, asuransi berbasis syariah, bahkan ada saham berbasis syariah..
Sebenarnya, apa sih  yang menjadi landasan syariah itu??
sistem-nyakah? peraturan-nya? atau sekedar memakai nama “SYARIAH” namun masih mengadope konvensional?

Sedikit dari ilmu yang saya dapatkan dari tempat saya bekerja di sebuah asuransi ternama di Indonesia, Insya allah sharing ini akan menambah ilmu dan bermanfaat khususnya kaum muslimin, amiin..

Resume ilmu training hari ini :

ISLAM berupa Aqidah (keyakinan, peraturan), Syariah (undang-undang islam), dan Akhlak (etika). Dalam basis syariah terdapat Fiqih yang merupakan tafsir Qur’an dan Al-Hadist.  Didalam fiqih mengatur tentang Ibadah (hubungan manusia dan Allah) dan Muamalat (hubungan manusia dan manusia). Beberapap Muamalat yang biasa terjadi berupa Wa’ad (janji sepihak) dan Akad (perjanjian kedua belah pihak). Akad terbagi menjadi 2 yakni Tabarru (saling menguntungkan) dan Tijarah (untuk keuntungan). Dalam Tijarah terbagi menjadi kepastian dan ketidakpastian.

Asuransi syariah menganut prinsip syariah, saling melindungi dan tolong-menolong, investasi dalam bentuk aset /tabarru (dana kebajikan).

Asuransi konvensional  menganut sistem transfer risk, namun pada asuransi syariah menganut sistem risk sharing. Azas risk sharing (berbagi resiko) merupakan suatu sistem dimana para nasabah mengumpulkan dana tabarru untuk saling menolong kepada sesama nasabah lain.

Asuransi itu mulia

1. Qur’an surat Al-Baqoroh (2) : 240

Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

SUMBER : http://quran.com/2/240

Kata yang saya beri BOLD merupakan inti dari pembicaraan. Jelas di al-quran telah ditulis bahwa orang-orang yang akan meninggal dunia dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya).  Mati itu datang sewaktu-waktu dan persiapan meninggalkan nafkah 1 tahun bukan perkara yang mudah, namun asuransi memberi solusi. Artinya santunan (nilai tunai) yang diberikan oleh asuransi jiwa ketika nasabah meninggal kepada ahliwaris dapat dijadikan nafkah, ini sesuai dengan al-quran. Asuransi memberikan tugas yg mulia.🙂

2. HR. Muslim

Ingat 5 perkara, sebelum 5 perkara

Muda sebelum Tua

Sehat sebelum Sakit

Kaya  sebelum Miskin

Lapang  sebelum Sempit

Hidup sebelum Mati

Artinya, gunakanlah harta kekayaanmu untuk perlindungan terhadap kehilangan penghasilan untuk masa depan, sebelum tua, sebelum sakit, sebelum miskin, sebelum sempit, dansebelum mati. Asuransi memberikan tugas yg mulia.🙂

Landasan Operasional Asuransi Syariah

1. Harus terbebas dari MAYSIR (JUDI)

Maysir merupakan sesuatu yang menimbulkan keuntungan (ribh) bagi satu pihak dan kerugian (khasarah) bagi pihak lainnya

Qur’an surat Al-Maidah (5) : 90

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berhal-berhala, panah-panah (yang digunakan mengundi nasib) adalah kekejian yang termasuk perbuatan setan.maka, jauhilah ia agar kamu mendapat keberuntungan.

SUMBER : http://quran.com/5/90-91

contoh MAYSIR dalam asuransi traditional :

A menabung sebesar 100ribu rupiah per bulan, dibulan ke empat A meninggal, maka uang pertanggungan meninggalnya keluar, misal 100 juta rupiah.

B menabung sebesar 100ribu rupiah per bulan, namun B meninggal di bulan ke 15, maka uang pertanggungan meninggalnya pun keluar, sebesar 100 juta rupiah.

disini terjadi untung dan merugikan. A menabung 4 bulan, dan B menabung 15 bulan, namun dana santunan yang diberikan sama. Ini yang menyebabkan MASYIR.

2. Harus terbebas dari GHARAR

Gharar merupakan semua jual beli yang mengandung ketidakjelasan. Dalam syari’at Islam, jual beli gharar ini terlarang.

Contoh gharar :

Pertama : Jual-beli barang yang belum ada (ma’dum), seperti jual beli habal al habalah (janin dari hewan ternak).

Kedua : Jual beli barang yang tidak jelas (majhul), baik yang muthlak, seperti pernyataan seseorang : “Saya menjual barang dengan harga seribu rupiah”, tetapi barangnya tidak diketahui secara jelas, atau seperti ucapan seseorang : “Aku jual mobilku ini kepadamu dengan harga sepuluh juta”, namun jenis dan sifat-sifatnya tidak jelas. Atau bisa juga karena ukurannya tidak jelas, seperti ucapan seseorang : “Aku jual tanah kepadamu seharga lima puluh juta”, namun ukuran tanahnya tidak diketahui.

Ketiga : Jual-beli barang yang tidak mampu diserah terimakan. Seperti jual beli budak yang kabur, atau jual beli mobil yang dicuri.[10]. Ketidak jelasan ini juga terjadi pada harga, barang dan pada akad jual belinya.

Contoh GHARAR dalam asuransi :

menetapkan yang pasti menjadi tidak pasti –> dalam polis tertulis “klaim nasabah cair setelah 7 hari”

disini terjadi ketidak jelasan informasi, 7 hari kerjakah? atau 7 hari kalender? Jika 7 hari kerja, klaim pada hari senin, maka asuransi akan membayarkan pada hari rabu. Jika 7 hari kalender, klaim pada hari senin, maka asuransi akan membayarkan pada hari senin berikutnya. Ketidak jelasan informasi ini  yang menyebabkan GHARAR

3. Harus terbebas dari RIBA

Riba dapat di definisikan kelebihan atau keuntungan pengembalian yang berbeda dari nilai aslinya.

Qur’an surat Al-Baqoroh : 275

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

SUMBER : http://quran.com/2/275

Contoh RIBA dalam asuransi :

menetapkan yang tidak pasti menjadi pasti –> investasi bisnis merupakan sesuatu yang tidak pasti hasilnya, kadang hasil baik kadang menurun. Namun hal tersebut dapat menjadi riba ketika hasil yang belum terlihat namun sudah di pastikan keuntungannya terhadap pihak lain.

Jika suatu perusahaan asuransi mendepositokan uangnya kepada bank, maka ditetapkan bunga sekian persen, misal 7%. Bank mengelola uang dari perusahaan tersebut, dalam pengelolaannya bank belum tau uang tersebut akan untung atau rugi nilai investasinya, namun bank telah menetapkan bunga 7%. hal inilah yang menyebabkan riba.

yaaaa kira-kira itulah landasan operasional berbasis syariah NO MAGHRIB (MAYSIR, GHARAR, dan RIBA), hehhe..

Sedikit ulasan dari saya, semoga bermanfaat bagi semua umat muslim di dunia ini. Jika ada salah, mohon pembenaran, kritik, serta saran..

Alhamdulillah Jaza Kumullahu Khoiroh🙂

Saya (Rininta Dwi Anggriary), agen Asuransi Prudential dan saya berlisensi

Silakan diskusi seputar proteksi kesehatan dan investasi cerdas keuangan anda

Contact me : rinintadwia@gmail.com

2 Tanggapan to “Landasan Operasional “ASURANSI SYARIAH””

  1. Ok !
    Jadi ada Prudential “Syariah” ?!
    dan apakah itu (Prudential Syariah) adalah “Asuransi Berlapis” ?
    ajkkh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: