Pengelolaan Sumber Daya Alam Sebagai Payung Kesejahteraan


Pengelolaan Sumber Daya Alam Sebagai Payung Kesejahteraan

Rininta Dwi Anggriary – 0806453346

Dosen : Drs. Suswanto Rasidi

 

Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam yang sangat kaya akan keragaman baik jenis maupun manfaatnya berupa hasil bumi, hasil laut, hasil tambang dan lain sebagainya. Sayangnya kekayaan ini belum dapat dikelola secara maksimal sehingga cita-cita menuju masyarakat yang adil dan makmur masih belum terwujud.

Pengelolaan sumberdaya alam cenderung dilakukan secara over eksploitatif dimana hasil alam dikeruk sebesar-besarnya tanpa memperhatikan keberlanjutan dan kelestarian alam itu sendiri. Akibatnya selain lingkungan menjadi rusak, timbulah permasalahan-permasalahan sosial seperti kemiskinan, kecemburuan sosial, hilangnya mata pencaharian.

Model-model pengelolaan sumberdaya alam saat ini adalah dengan membuka peluang investasi sebesar-besarnya melalui investor baik investor dalam negeri maupun investor luar negeri dengan tanpa memberikan peluang kepada masyarakat setempat untuk mengelola kekayaan alamnya. Pada kenyataannya, masyarakat hanya diberikan ruang yang sangat terbatas dalam mengelola sumberdaya alam di tempat mereka tinggal. Itupun tak lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan akan tenaga kerja perusahaan yang berinvestasi.

Pengelolaan sumberdaya alam seharusnya melalui pendekatan manajemen sumber daya alam yang adil dan berkelanjutan yang menempatkan masyarakat setempat sebagai pelaku utama dalam mengelola sumberdaya alam melalui pengembangan industri perdagangan berbasis sumberdaya alam, penguatan komunitas serta kemitraan bisnis yang saling menguntungka, dengan mempertimbangkan upaya-upaya pelestarian lingkungan hidup, peningkatan kesejahteraan masyarakat, penghapusan kemiskinan, dan pendemokratisasian pengelolaan sumber daya alam dan harus diselenggarakan secara terpadu dan profesional.

Percepatan pembangunan ekonomi yang sehat di seluruh nusantara harus dilakukan melalui paradigma baru yaitu menempatkan komunitas sebagai pelaku utama dalam mengelola hasil kekayaan alam guna meningkatkan dan memperkuat kegiatan-kegiatan ekonomi. Sumber daya alam adalah termasuk dalam kategori komoditas yang bersifat inelastis, maka konsekuensinya adalah: jika komoditas ini mengalami kenaikan harga, maka pendapatan total (total revenue) yang akan didapatkan oleh para penjual komoditas ini (produsen) akan semakin tinggi. Oleh karena itu, semakin tinggi harga komoditas ini, maka akan semakin besar pendapatan total yang akan diperoleh para penjualnya. Naik turunnya harga dari komoditas SDA ini akan berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap naik turunnya biaya produksi. Selanjutnya, naik turunnya biaya produksi ini tentu juga akan berpengaruh langsung terhadap naik turunnya produksi nasional secara agregat. Apabila harga komoditas SDA mengalami kenaikan, maka secara ekonomi makro akan mengakibatkan terjadinya inflasi, yaitu harga-harga secara umum mengalami kenaikan, sekaligus di sisi lain akan meyebabkan pendapatan rakyat di negeri itu mengalami penurunan, alias rakyat akan menjadi semakin miskin.

Mengingat posisi strategis dari sumber daya alam bagi keberlangsungan ekonomi umat manusia secara keseluruhan, maka pembahasan seharusnya lebih difokuskan kepada persoalan yang paling fundamental, yaitu menyangkut keberadaan dari sumber daya alam itu sendiri.

Rantai antara sumber daya alam (SDA), sebagai suatu kondisi yang diberikan (dianugerahkan), sumber daya infrastruktur (SDI) daerah, sebagai payung dan wadah yang secara formal akan mengelola SDA tersebut, serta –yang terpenting- sumber daya manusia (SDM), sebagai faktor utama berhasilnya pelaksanaan pengelolaan SDA dan SDI, adalah sesuatu yang harus ada dan merupakan syarat bagi berhasilnya program pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Pada suatu masanya, SDA akan semakin habis atau menipis jumlah cadangannya, sementara –tergantung dari keberhasilan program pengelolaan- SDI daerah baik dan buruknya akan sangat bergantung dari SDM sebagai faktor kunci dan subyek dalam rantai pengelolaan ini. Keberlangsungan hubungan SDA-SDI-SDM yang berkelanjutan akan sulit terwujud jika tidak ada komitmen yang tulus dari semua pihak yang berperan dalam aktifitas pengelolaan SDA dalam pengembangan, pemberdayaan dan pemanfaatan SDM daerah.

Persoalan yang paling krusial menyangkut permasalahan sumber daya alam di negeri Indonesia ini sesungguhnya bukan terletak pada masalah langka atau tidaknya sumber daya ini, bukan juga pada masalah mahal atau tidaknya harga sumber daya alam ini di tingkat dunia. Termasuk juga, bukan masalah sulit atau tidaknya untuk mendapatkannya. Akan tetapi, semuanya hanya bermuara kepada keputusan politik ekonomi dari pengelolaan sumber daya itu sendiri.

 

 

DAFTAR ACUAN

 

Kompasiana. 26 Januari 2011. Moralitas dan Dehumanisasi. 2 hlm. http://filsafat.kompasiana.com/2011/01/26/moralitas-dan-dehumanisasi/. 15 Februari 2001, pk. 10.42.

PT. Poros Nusantara. 21 November 2009, 3 hlm. http://www.telapak.org/index.php?option=com_content&view=article&id=118&Itemid=56&lang=id. 15 Februari 2011, pk. 10.33.

Sandra, J.M. 2005. Pengelolaan Sumber Daya Energi dan Mineral di Jawa Timur. 4 hlm. http://www.iei.or.id/publicationfiles/Pengelolaan%20Sumber%20Daya%20Energi%20dan%20Mineral%20di%20Jawa%20Timur.pdf. 15 Februari 2011, pk. 10.48.

Triana, D. Condro. 3 Juni 2008. Peran Negara dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam. (?). http://www.jurnal-ekonomi.org/2008/06/03/peran-negara-dalam-pengelolaan-sumber-daya-alam/. 15 Februari 2011, pk. 11.41.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: